Transformasi Digital Industri Logistik : Peluang dan Tantangan

Berdasarkan riset yang dilakukan Asia IoT Business Platform ternyata sudah banyak perusahaan yang mengaplikasikan digitalisasi. Persentasenya adalah sebanyak 43.1 persen pada industri manufaktur dan 46.2 persen pada industri logistik, mereka sudah mengimplementasikan transformasi digital lebih dari satu area fungsional di dalam perusahaan.

Survei yang dilakukan oleh AIBP sudah melibatkan 1624 responden yang tersebar di beberapa negara, diantaranya adalah Malaysia, Filipina, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Di dalam survei yang dilakukan oleh AIBP ternyata masih ada sembilan perusahaan yang tidak menerapkan transformasi digital di dalam proses bisnis mereka, baik itu dalam logistik atau bagian-bagian lain.

Namun dengan berjalannya waktu dan dengan teknologi yang semakin berkembang, maka tingkat penerapan digitalisasi pada perusahaan akan terus bertumbuh.

Beberapa perusahaan di ASEAN yang banyak merasakan manfaat dari pengimplementasian proyek transformasi digital adalah Indonesia dan Thailand. Hal ini terjadi karena Indonesia dan Thailand merupakan negara yang paling banyak berinvestasi di dalam bidang teknologi. kedua negara ini juga mulai menuai hasil dari investasi yang mereka lakukan.

Tantangan dan Peluang Transformasi Digital

Karena pelaku bisnis merasa bahwa transformasi digital sangat penting, maka mereka memberikan respon positif tentang hal ini. Terkait dengan hal ini, masih banyak tantangan yang akan dihadapi perusahaan ketika beberapa perusahaan menerapkan transformasi digital di perusahaan mereka, khususnya bidang logistik. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh perusahaan adalah tingginya intensitas iklan hingga promosi di banyak channel digital, hal ini memunculkan tantangan “Battle For Attention”.

Dengan banyaknya tantangan yang ada, maka tercipta sebuah peluang atau strategi yang bisa dilakukan oleh beberapa perusahaan. VP Marketing Infomedia, Widi Sagita mengatakan bahwa kegagalan dalam menerapkan transformasi digital pada perusahaan bisa menyebabkan pendapatan perusahaan menurun hingga 30% dalam kurun waktu 5 tahun.

Lalu strategi atau peluang yang bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan adalah perusahaan harus mengenali pelanggannya dengan baik sehingga dapat menemukan bottle neck dari sebuah proses pengambilan keputusan pelanggan dalam melakukan proses pembelian.

Namun sebenarnya transformasi digital tidak hanya terpatok pada kecanggihan teknologi saja. Namun bisa mencangkup beberapa hal yang diperlukan untuk beberapa proses yang terjadi di dalam perusahaan.

Transformasi digital yang berjalan dengan baik di dalam sebuah perusahaan ditandai dengan pelanggan yang dipuaskan, pengeluaran yang kecil atau bisa terkendali dan pendapatan tinggi di dalam perusahaan.

Perbedaan Bisnis Digital dan Konvensional

Secara perlahan-lahan industri yang menggunakan fasilitas digital mulai mematikan bisnis yang bersfifat konvensional. Mereka lebih memilih menggunakan fasilitas digital karena beberapa perusahaan yang menerapkan penjualan online kini semakin berkembang pesat. Memang banyak perusahaan yang merasakan banyak manfaat ketika mereka menerapkan transformasi digital dalam bidang logistik, salah satu manfaat yang didapatkan oleh perusahaan adalah penjualan yang meningkat. Tentu dengan hal tersebut pendapatan perusahaan juga semakin meningkat yang membuat keuntungan perusahaan juga menjadi sangat besar. Dampak positif ini memang sudah dirasakan oleh beberapa perusahaan yang menerapkan transformasi digital di dalam perusahaan.

Memang seiring dengan perkembangan jaman bisnis digital dirasa lebih efektif daripada bisnis konvensional, namun tidak serta merta bisnis digital dapat berkembang tanpa adanya sistem penjualan yang inovatof dan kreatif.

Perusahaan konvensional ternyata masih mengandalkan kantor pusat, pasar, atau sebuah ruko untuk bisnisnya. Namun perusahaan digital hanya perlu menggunakan situs, blog atau toko online untuk menjual barang dagangannya.

Produk yang dijual pada kedua tipe bisnis ini juga berbeda. Produk yang dijual oleh perdagangan konvensional biasanya berwujud sementara, namun pada bisnis digital menggunakan produk yang berwujud dan tidak berwujud.

Jika percetakan resi pada bisnis konvensional masih manual dan pengecekan harga barang juga masih manual. Namun di dalam bisnis digital Anda sudah bisa melakukan pengecekan resi secara online dan melakukan pengecekan harga barang secara online.

Umumnya gudang yang digunakan oleh perusahaan konvensional berbentuk fisik atau bangunan namun perusahaan digital tidak memerlukan gudang untu menampung barang yang diperjual belikan.

Perusahaan yang sudah mengalami transformasi digital memang mendapatkan banyak manfaat, namun perusahaan digital juga belum sepenuhnya terlepas dari sistem kerja konvensional atau manual.

HAK CIPTA © 2020 PT. EMMAINTEGRA CITRA SINERGI, HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG.